Translate

Saturday, May 6, 2017

Kunci Percaya Diri

"...Bahwa sebagian orang di birokrasi sering meracuni bakat-bakat terbesar kita. Tak hanya tak menyediakan tanah gembur untuk bibit-bibit pohon agar dapat tumbuh alami dan wajar, tapi bahkan jika ada pohon yang bakal menjulang indah di tegel dan beton, tanpa rasa bersalah, mereka menebangnya." seru saya di atas taksi. Waktu itu kami dari bandara Schipol menuju Vrije Universiteit Amsterdam.
"Mungkin begitulah dek. Kalau kau tahu sedihnya ditolak satu-satunya Universitas yang ingin kau bangun, kalimatmu tak akan sepuitis itu." jawabnya singkat.
"Kak, kalau kakak mau menghadapinya dengan ringan, kakak bisa menertawakan mereka. Menertawakan kebodohan-kebodohan ini. Maka hasilnya kakak berhadapan dengan situasi penuh humor, komedi tolol yang tak hanya menertawakan kebodohan mereka, tapi juga mungkin menertawakan apa yang dianggap sebuah kecerdasan oleh para orang-orang sialan itu. Bagaimana ceritanya, mereka lebih memilih orang yang tidak linier pendidikannya dibanding kakak yang lulusan Belanda, punya belasan paper di PR D dan Elsevier. Dengan otak sekecil mereka, bagaimana Universitas yang kita cintai mau maju."
"Makanya dek, tidak usah pulang. Saya bisa uruskan kau beasiswa lanjutan di sini. Selama enam bulan persiapanmu saya juga bisa tanggung kebutuhanmu. Bakatmu akan jatuh dengan pasti jika kau kembali."
"Terimakasih kak atas sarannya. Mau tidak mau saya harus kembali. Saya ingin bangun institute sendiri. Institute yang mewadahi bakat-bakat terbaik seperti kakak dan yang lainnya. Institute yang akan membawa kakak kembali ke kampung untuk mendidik anak-anak kampung menembus PR D, IoP, MDPI dll."

No comments:

Post a Comment