Saya kirimkan draft awal kumcer ke seorang kawan yang juga editor di salah satu penerbit. Saya kirim sekadar memastikan kalau karya saya memang tidak cocok untuk banyak orang.
Dua bulan kemudian ia memberikan beberapa komentar pendek, "tulisan lho bangke."
"Maksudnya?"
"Haram bagi beberapa orang. Teknik menulismu bagus. Hanya saja jadi aneh karena kau masukkan unsur mantra dan klenik, sosio-politik, humor suram dan beberapa masalah panas terkait kebebasan manusia dan ketaksanggupan Tuhan. Mana ada banyak orang untuk segmen pembaca yang cocok dengan itu."
"Setidaknya kumcer itu cocok dengan saya sendiri."
"Kalau pembaca sepertiku dan sepertimu tidak masalah. Tapi yang lainnya? Kenapa kau tidak meniru gaya bertutur dan ide-ide seperti yang biasa diangkat K, HR, GTS, SGA, DL dan BA saja? Kenapa kau malah tiru-tiru D, HM, EK, SR, AN dan TT?"
Saya balas komentarnya, "karena saya menulis tidak mau seperti orang yang kau sebut pertama. Saya mau menulis seperti yang kau sebut belakangan. Lagipula saya hanya memastikan kalau dugaan saya benar."
No comments:
Post a Comment