"Problem utamamu, saya kira adalah, kau gagal mencoba meniru dirimu sendiri. Itu hal terburuk yang bisa terjadi pada seorang penulis, dan ini banyak terjadi pada penulis lain di sini, di Makassar." katanya di suatu acara. Tentu saja, saya tidak terima. Pertama karena saya tidak senang meniru diri sendiri. Kedua karena saya sedang dalam proses 'meniru' beberapa penulis kesukaan saya: Tanizaki, Murakami, Dostoyevski, Hansum, G. Marquez, Scott Turrow, Eka Kurniawan, Kuntowijoyo. Ketiga karena saya merasa diri saya yang menulis dulu dengan teknik seadanya sedikit berbeda dengan sekarang. Keempat karena peralihan jalur umum ke realisme magis dan surreal (untuk memberi ruang gerak lebih luas bagi konsep tertentu pada matematika dan fisika) adalah hal alamiah yang didukung bacaan saya yang mulai bersentuhan dengan kanon-kanon kesusateraan dunia. Kelima karena bekerja paruh waktu sebagai penerjemah, saya terpengaruh dengan pemilihan kosakata, pelangsingan kalimat dan beberapa struktur-struktur 'baru'--yang tidak saya temui banyak di karya fiksi lokal--seperti apositive dan reducing.
Ia menyebut cerpen saya: Goa, Ajal dan Cerita sebagai cerpen terbaik yang pernah ia baca (kebetulan saja ia belum membaca karya fiksi dari penulis lain). Dan cerpen-cerpen terbaru saya di kumpulan cerpen Laki-laki yang Membenci Suara Gagak-gagak sangat jauh dari harapannya. Apa mau dikata, saya gagal di matanya.
No comments:
Post a Comment