Translate

Saturday, May 6, 2017

Pertemuan yang ditakdirkan

Belajar struktur bahasa Inggris, Cosmological Inhomogenitas in Alternative Gravity, Koordinat Pseudo-Painlave-Gulstrand dan Geometrisasi Thurston secara dalam--dan kelewatan--selama tiga bulan penuh bisa jadi semacam bunuh diri sosial.
Saya ke perpustakaan kreatif tadi. Tetiba ada pustakawati mendekat dan menyodorkan tangan sebagai tanda perkenalan awal.
"V..., baru berjunjung ke sini?"
Saya menatapnya lama. Beberapa detik kemudian saya menjabat tangannya lalu menjawab santai, "saya ke sini sejak tahun lalu."
Sial, belakangan saya sadari kalau saya lupa menyebut nama sendiri dan berbasa-basi. Mungkin kami bisa ngobrol tentang novel Eka Kurniawan atau Boy Chandra atau Tere Liye atau buku puisi Aan Mansyur. Mungkin kami bisa duduk di sofa sembari bercerita tentang beberapa hal lain. Saya terlalu dingin menanggapi niat baik orang.
Sekitar sejam membaca, ada pengunjung lain yang bertanya, "Ini sandalta." sambil menunjuk sendal di depan pintu.
"Bukan."
Sialnya lagi, saya tak menjawab dengan dua kata atau lebih. Padahal saya bisa bawa bercanda. Misal dengan mengatakan, "pakai saja, toh tidak ada yang mengaku punya, asal jangan pakai menginjak tai sapi."

Keberhasilan Usaha dari Kegigihan Seseorang

Ada beberapa orang nyinyir dan bilang kalau yang punya skor TOEFL ITP 553 dan TOEFL IBT 73 belum tentu pintar. Ya mungkin saja memang dia/mereka tidak pintar. Tapi skor segitu bisa jadi menunjukkan kegigihan, konsentrasi dan pemahaman atas pola. Jika tidak punya konsentrasi, Reading dan Listening akan menjungkalkan dan menggagalkan. Kalau tidak paham pola dan tidak gigih belajar aturan tatabahasa, ya disingkirkan Structure, Writing. Adalah hal omong kosong dan sialan jika ada beberapa orang mengaku sanggup menyelesaikan studi di CU, UoC, PU, BU tanpa punya skill memadai terkait bahasa-budaya, tahu pola, gigih dan punya konsentrasi yang ditunjukkan salah satunya lewat sertifikat penguasaan bahasa (TOEFL, IELTS, TOEIC).
Memang manusia sangatlah rumit untuk dipetakan lewat satu atau dua test atau lebih. Tapi standar tetaplah harus ada dan mesti dipatok. Makanya selain seleksi berkas ada sesi wawancara. Jika berkas menyertakan batas penilaian terhitung (TOEFL/TOEIC/IELTS, IPK), maka wawancara menilai kualitas yang tak terhitung. Kalau sekelas Bodevan, Zaja, Viespyr, Kieylr, Rellian, Nail, ya TOEFL/TOEIC/IELTS tidak penting. Tapi berapa banyak orang seperti mereka di dunia?

Kunci Percaya Diri

"...Bahwa sebagian orang di birokrasi sering meracuni bakat-bakat terbesar kita. Tak hanya tak menyediakan tanah gembur untuk bibit-bibit pohon agar dapat tumbuh alami dan wajar, tapi bahkan jika ada pohon yang bakal menjulang indah di tegel dan beton, tanpa rasa bersalah, mereka menebangnya." seru saya di atas taksi. Waktu itu kami dari bandara Schipol menuju Vrije Universiteit Amsterdam.
"Mungkin begitulah dek. Kalau kau tahu sedihnya ditolak satu-satunya Universitas yang ingin kau bangun, kalimatmu tak akan sepuitis itu." jawabnya singkat.
"Kak, kalau kakak mau menghadapinya dengan ringan, kakak bisa menertawakan mereka. Menertawakan kebodohan-kebodohan ini. Maka hasilnya kakak berhadapan dengan situasi penuh humor, komedi tolol yang tak hanya menertawakan kebodohan mereka, tapi juga mungkin menertawakan apa yang dianggap sebuah kecerdasan oleh para orang-orang sialan itu. Bagaimana ceritanya, mereka lebih memilih orang yang tidak linier pendidikannya dibanding kakak yang lulusan Belanda, punya belasan paper di PR D dan Elsevier. Dengan otak sekecil mereka, bagaimana Universitas yang kita cintai mau maju."
"Makanya dek, tidak usah pulang. Saya bisa uruskan kau beasiswa lanjutan di sini. Selama enam bulan persiapanmu saya juga bisa tanggung kebutuhanmu. Bakatmu akan jatuh dengan pasti jika kau kembali."
"Terimakasih kak atas sarannya. Mau tidak mau saya harus kembali. Saya ingin bangun institute sendiri. Institute yang mewadahi bakat-bakat terbaik seperti kakak dan yang lainnya. Institute yang akan membawa kakak kembali ke kampung untuk mendidik anak-anak kampung menembus PR D, IoP, MDPI dll."

Kunci Percaya Diri

"...Bahwa sebagian orang di birokrasi sering meracuni bakat-bakat terbesar kita. Tak hanya tak menyediakan tanah gembur untuk bibit-bibit pohon agar dapat tumbuh alami dan wajar, tapi bahkan jika ada pohon yang bakal menjulang indah di tegel dan beton, tanpa rasa bersalah, mereka menebangnya." seru saya di atas taksi. Waktu itu kami dari bandara Schipol menuju Vrije Universiteit Amsterdam.
"Mungkin begitulah dek. Kalau kau tahu sedihnya ditolak satu-satunya Universitas yang ingin kau bangun, kalimatmu tak akan sepuitis itu." jawabnya singkat.
"Kak, kalau kakak mau menghadapinya dengan ringan, kakak bisa menertawakan mereka. Menertawakan kebodohan-kebodohan ini. Maka hasilnya kakak berhadapan dengan situasi penuh humor, komedi tolol yang tak hanya menertawakan kebodohan mereka, tapi juga mungkin menertawakan apa yang dianggap sebuah kecerdasan oleh para orang-orang sialan itu. Bagaimana ceritanya, mereka lebih memilih orang yang tidak linier pendidikannya dibanding kakak yang lulusan Belanda, punya belasan paper di PR D dan Elsevier. Dengan otak sekecil mereka, bagaimana Universitas yang kita cintai mau maju."
"Makanya dek, tidak usah pulang. Saya bisa uruskan kau beasiswa lanjutan di sini. Selama enam bulan persiapanmu saya juga bisa tanggung kebutuhanmu. Bakatmu akan jatuh dengan pasti jika kau kembali."
"Terimakasih kak atas sarannya. Mau tidak mau saya harus kembali. Saya ingin bangun institute sendiri. Institute yang mewadahi bakat-bakat terbaik seperti kakak dan yang lainnya. Institute yang akan membawa kakak kembali ke kampung untuk mendidik anak-anak kampung menembus PR D, IoP, MDPI dll."

Kunci Percaya Diri

"...Bahwa sebagian orang di birokrasi sering meracuni bakat-bakat terbesar kita. Tak hanya tak menyediakan tanah gembur untuk bibit-bibit pohon agar dapat tumbuh alami dan wajar, tapi bahkan jika ada pohon yang bakal menjulang indah di tegel dan beton, tanpa rasa bersalah, mereka menebangnya." seru saya di atas taksi. Waktu itu kami dari bandara Schipol menuju Vrije Universiteit Amsterdam.
"Mungkin begitulah dek. Kalau kau tahu sedihnya ditolak satu-satunya Universitas yang ingin kau bangun, kalimatmu tak akan sepuitis itu." jawabnya singkat.
"Kak, kalau kakak mau menghadapinya dengan ringan, kakak bisa menertawakan mereka. Menertawakan kebodohan-kebodohan ini. Maka hasilnya kakak berhadapan dengan situasi penuh humor, komedi tolol yang tak hanya menertawakan kebodohan mereka, tapi juga mungkin menertawakan apa yang dianggap sebuah kecerdasan oleh para orang-orang sialan itu. Bagaimana ceritanya, mereka lebih memilih orang yang tidak linier pendidikannya dibanding kakak yang lulusan Belanda, punya belasan paper di PR D dan Elsevier. Dengan otak sekecil mereka, bagaimana Universitas yang kita cintai mau maju."
"Makanya dek, tidak usah pulang. Saya bisa uruskan kau beasiswa lanjutan di sini. Selama enam bulan persiapanmu saya juga bisa tanggung kebutuhanmu. Bakatmu akan jatuh dengan pasti jika kau kembali."
"Terimakasih kak atas sarannya. Mau tidak mau saya harus kembali. Saya ingin bangun institute sendiri. Institute yang mewadahi bakat-bakat terbaik seperti kakak dan yang lainnya. Institute yang akan membawa kakak kembali ke kampung untuk mendidik anak-anak kampung menembus PR D, IoP, MDPI dll."